Wanita dengan Kusta, Jangan Kalah, Tetap Bisa Berkarya

Orang bilang wajah yang cantik itu anugrah, bisa memuluskan jalan hidupnya. Istilah kerennya sih Beauty Privilege. Nah tapi aku ga akan bahas itu sih. Bukan membahas beauty privilegenya. Tapi sebaliknya, gimana ya kalau wajah seorang perempuan terkena penyakit dan menyebabkannya tidak enak dipandang?.

Suatu hari aku pernah menonton video yang FYP (istilah lain dari viral). Video ini menampilkan seorang penyanyi perempuan yang menghapus riasan wajahnya. Sungguh kaget aku melihatnya, dibalik riasan wajahnya, ternyata ada noda noda putih dan pink yang mungkin kita tahu itu apa. Ya itu adalah bercak bercak karena kusta.

Wajah penyanyi tadi aslinya juga sudah cantik. Namun memang bercak putih pink hampir memenuhi separuh wajah dan sepertinya mengganggu penampilannya.

Namun dari caption yang ia tulis di video. Ia ingin dihargai dari kemampuannya ( suaranya indah) bukan dari penampilannya.

Sayangnya aku melihat ini jauh sebelum aku mengetahui info tentang Kusta karena sering menonton tayangan di Live Youtube KBR. Jadi aku lupa siapa namanya.

Aku hanya teringat kembali ceritanya karena menyaksikan Talkshow bersama KBR Indonesia dan NLR Indonesia.

Sekilas tentang NLR Indonesia, adalah sebuah yayasan nirlaba dan non-pemerintah yang memusatkan kerjanya pada penanggulangan kusta dan konsekuensinya di Indonesia

Talkshow yang bertajuk Wanita dan Kusta. Menampilkan pembicara Ibu Yuliati – Ketua Permata Sulsel dan OYPMK Perempuan. Didampingi oleh bung Rizal sebagai Host. Acara ini ditayangkan secara Live pada Rabu, 30 Agustus 2023. Untungnya tayangan ini dapat kita saksikan ulang di Youtube Channel KBR.

Apakah Wanita dengan Kusta masih dapat berkarya?

Wanita dengan kusta tentu masih dapat berkarya, hal ini kan bisa terjawab juga dengan kalimat pengantar tulisan ini di atas.

Bahwa ada penyanyi yang merupakan OYPMK. Begitupun Ibu Yuliati yang aku tidak menyangka kalau beliau juga adalah OYPMK.

ceritanya dahulu ibu Yuliati mendapati salah satu ibu jari kaki mengalami mati rasa. Walah begitu Ibu Yuliati membutuhkan waktu satu tahun untuk menggali informasi dan meyakinkan dirinya bahwa ia terkena kusta.

Memang masyarakat kita belum banyak yang tahu mengenai penyakit ini. Padahal penyakit ini merupakan salah satu penyakit kuno yang sudah ada di bumi sejak hampir selama 3500 tahun.
.
Aku juga pernah baca bahwa salah satu tes pemeriksaan klinis untuk mengetahui kusta diantaranya adalah melihat gejala PNL. Namun gejala ini mirip Neuropathy pada diabetes. Sehingga semakin sulit untuk didiagnosis mengingat Pasien Diabetes di Indonesia cukup banyak.

Wajar Sekali bila Ibu Yuliati mengalami waktu yang cukup lama untuk menyadari penyakit ini. Bahkan sejak mengetahui dirinya terkena kusta. Ibu Yuliati sempat memutuskan untuk berhenti kuliah, tidak bercerita ke pada keluarga, bahkan beliau sempat berniat untuk bunuh diri.

Untungnya Ibu Yuliati bertemu dengan Permata Komunitas yang menaungi dan mendampingi OYPMK. sehingga Ibu Yuliati memiliki semangat untuk bangkit kembali.

Awal Mula Terkena Kusta, Bukan Akhir Segalanya

Ibu Yuliati menyangkal pendapat yang disampaikan oleh Moderator Bung Rizal, ” Bahwa yang paling banyak terkena kusta adalah laki laki karena kurang menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan”

menurut ibu Yuliati ia termasuk orang yang sangat memperhatikan kebersihan. Dan buktinya ia malah tertular dari sepupunya yang pulang dari merantau. ” Mungkin saat itu kondisi imunitas saya menurun” begitu sanggah beliau.

Walaupun begitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan ya tetap harus kita lakukan. Penyakit lain juga banyak yang muncul dari lingkungan yang kotor.

Berkegiatan Bersama Permata

Ini juga salah satu bukti bahwa OYPMK perempuan masih bisa berdaya dan berkarya. Ibu Yuliati contohnya. Selalu hadir mendampingi dan memberikan edukasi di Lingkungan tempat tinggal beliau. Di Wilayah Privinsi Sulawesi Selatan.

Mereka memberikan edukasi terkait hoax dan miss informasi tentang Kusta. Diantaranya seperti kusta adalah penyakit kutukan. Tidak dapat disembuhkan. Penderita harus dipasung. Tidak boleh berdekatan dengan penderita bahkan setelah mereka dinyatakan sembuh.

Padahal dengan deteksi dini dan langsung diobati, dapat memperkecil bahaya dari penyakit kusta ini. Penyakit yang dikira receh ini sebenarnya dapat mengancam kematian. Selain menyerang fisik dan dapat membuat disabilitas. juga dapat menyebabkan mental down. Terlebih bila terkena di bagian wajah.

Kusta akan meninggalkan bekas berupa bercak bercak dengan warna yang khas.

Wanita dan Kusta, Jangan Kalah, Pasti Bisa tetap berkarya

Bentuk Dukungan dan Strategi Adaptif Perempuan dalam menjalani Hidup bermasyarakat.

1. Pendidikan dan kesadaran

seperti yang dialami bu Yuliati, setelah beliau memahami apa itu penyakit kusta, bu yuliati bangkit kembali dan meneruskan perkuliahannya.

karena itu bagi perempuan yang terkena kusta, sangat penting untuk memahami penyakit kusta yang mereka derita.

Dengan informasi dan pengetahuan yang tepat, dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyembuhkan penyakit sekaligus memutus mata rantai penyebaran kusta .

2. Dukungan Emosional

Penyakit kusta ini meninggalkan bercak bercak pada kulit. apabila terkena di bagian yang bisa ditutupi mungkin tidak separah bila muncul di tempat yang tidak tertutup terutama wajah. Untuk itu perempuan yang terkena kusta harus memilki jaringan dukungan emosional. Baik dukungan keluarga, teman dan masyarakat untuk membantu mengurangi rasa isolasi dan meningkatkan rasa kepercayaan diri.

3. Partisipasi Aktif dalam Organisasi

OPYMK Perempuan yang di diagnosis kusta dapat mengambil peran aktif dalam organisasi Permata yang memang menaungi dan memberikan pendampingan mengenai penyakit kusta.

Hal ini juga dapat membantu memutus stigma negatif tentang penyakit kusta. Walau seperti cerita ibu Yuliati. Beliau sempat dikira sebagai sales menawarkan barang. Dan sering ditolak.

4. Mengedepankan Kemandirian

Dalam hal ini mengedepankan Kemandirian adalah kunci untuk mengatasi masalah penyakit kusta seperti pemahaman tentang perawatan diri, penggunaan obat-obatan dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental.

Semoga dengan 4 hal diatas. dapat mengurangi permasalahan yang ditimbulkan oleh penyakit ini pada penderita maupun penyintas kusta. Sehingga OPYMK Perempuan dapat bangkit berdiri dan berkarya kembali.

Wanita dan Kusta, Jangan Kalah, Pasti Bisa tetap berkarya

9 Comments

  1. Sejak ada obatnya, kusta tidak lagi semenakutkan itu. Harus ada sosialisasi lebih galak supaya banyak orang yang terkena kusta bisa ditangani sejak dini dan bisa disembuhkan.

  2. Salah satu bentuk dukungan kita untuk menurunkan tingkat penderita kusta adalah menghilangkan stigma negatif terhadap para penderita kusta tersebut

  3. Walaupun gak muda untuk bangkit, tapi penderita kusta dan OYPMK perlahan memberikan edukasi agar masyarakat bisa lebih terbuka dan memberikan ruang untuk berkarya. Support system yang baik membuat lingkungan sehat dan nyaman untuk bisa hidup bersama.

    • Baiknya, setiap pasien menderita penyakit Kusta lebih baik langsung konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin (KK). Setiap pasien bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Kebetulan saya bekerja di rumah sakit, memang pasien seperti ini baiknya langsung bawa ke rumah sakit terdekat.

  4. Suka deh sama semangat Ibu Yuliati ini. Menyemangati diri sendiri dari keputus asaaan itu menurutku paling sulit. Tapi dia memilih untuk gak putus asa. Semoga semangat ibu ini, menular ke para pembaca

  5. Nggak mudah tapi pada akhirnya perjuangan untuk tetap berdaya dalam kesehariannya. Sesungguhnya memang menjadi OYMPK nggak mudah, tapi bersyukur ada saja sosok yang mau memperjuangkan dan mengenalkan soal kusta ke masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *