Ini Langkah Nyataku Bantu Cegah Perubahan Iklim Ekstrim

Ramadan hari pertama, seperti biasa pagi ini aku dan faqih bayiku yang berusia 8 bulan. Berkeliling komplek seperti biasanya sejak dia berumur 1 bulan. Dari kursi strollernya yang berwarna biru, tangannya sibuk bergoyang goyang tanda gembira.

Faqih memang suka sekali bertemu orang di luar. Namun pagi ini suasana nampak sepi. Ya mungkin karena Ramadan hari pertama. Banyak muslim yang tidur kembali setelah sahur.

Biasanya kami mengelilingi komplek itu durasinya 60 menit. Karena banyak yang dikunjungi. Ada kolam ikan dekat kolam renang. Trus melihat aquarium ikan hias punya tetangga. Peliharaan bebek, kucing kucing liar, dan ayam Bangkok yang juga dipelihara tetangga, setelah puas melihat mini zoo, barulah pulang.

Sayangnya tadi pagi cuaca cukup panas. Padahal penunjuk waktu di smartphoneku baru menunjukkan pukul 07 pagi lewat sedikit.

Aku yang sudah merasakan haus karena sedang puasa, memutuskan untuk pulang. Lagi pula faqih juga mau sarapan bubur dan mandi pagi.

Selesai makan dan mandi pagi, bayiku kuajak tidur. Namun kali ini pendingin ruangan di kamar kunyalakan. Entahlah sudah sejak beberapa waktu lalu. Kipas angin sudah tak cukup lagi mengusir panas. Padahal bentuk rumahku plavonnya tinggi, ventilasi udara pun besar. Jendela jendela dan sirkulasi udara bagus. Bahkan rumahku tidak tertutup di bagian belakang.

Tapi cuaca benar benar panas. Masih pagi saja sudah 31 derajat. Duh bikin malas beraktivitas. belum lagi makanan yang dimasak mudah sekali basi. Harus buru buru dimasukkan ke lemari pendingin. Nasi yang di rice cooker juga kalau tidak segera dipindahkan bisa cepat basi dan berair. Duh beda banget dengan beberapa tahun lalu.

Kabarnya sih ini pengaruh dari perubahan iklim. Ya perubahan iklim yang terjadi karena aktifitas kita sebagai manusia yang semena mena di muka bumi.

Dari aktivitas pabrik dan industri sih nggak perlu dijabarkan lagi ya. Kita tahu bagaimana kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri yang tidak bertanggungjawab, diantaranya penebangan pohon, pembakaran hutan, masalah limbah pabrik dll. Tapi ternyata banyak juga aktivitas manusia yang terlihat biasa dan sudah menjadi kebiasaan sehari hari, sering berbelanja, menggunakan pendingin ruangan, berkendara, menggunakan tisu, dan menyalakan listrik setiap hari, ternyata ini juga penyebab pemanasan global.

Wah aku pribadi nggak menyangka kebiasaan harian itu ternyata berakibat buruk ke lingkungan.

Aku pikir selama ini membuang sampah pada tempatnya saja sudah cukup. Ternyata tidak ya teman teman.

Dan parahnya nih akibat perubahan iklim yang cepat, banyak kejadian musibah karena ulah kita sendiri.

Bahkan fenomena cuaca ekstrim ini juga menjamah negara negara maju seperti Kanada, China dan beberapa wilayah Eropa. Mereka mengalami banjir besar terburuk sepanjang sejarah pada tahun lalu.

Bahkan 4 hari yang lalu dalam puncak peringatan HMD ke 72. Pak Presiden pun menyatakan Indonesia sebagai negara agraris dan kepulauan tidak luput dari perubahan iklim yang tengah berlangsung di seluruh dunia.

Presiden mengatakan, Indonesia adalah satu dari banyak negara yang terdampak perubahan iklim. Adapun sejumlah dampak yang dihadapi negara lain, di antaranya terjadinya peningkatan suhu udara, suhu muka air laut yang semakin menghangat dan terjadi laju kenaikan muka air laut yang membahayakan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dan sebagai rakyat Indonesia aku mengiyakan perkataan beliau. ” Bener pak, suhu harian sekarang benar benar terasa lebih panas”

Di acara itu pula Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan perubahan iklimlah yang menjadi faktor penguat, mengapa cuaca ekstrem makin sering terjadi di Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es atau kekeringan panjang.

Dan ini semua tuh indikasi bahwa Bumi memang sudah tidak baik baik saja.

Dampak perubahan iklim sudah sangat terlihat melalui cuaca yang lebih ekstrem di seluruh belahan dunia. Dan ini bisa mengancam ketahanan pangan gaes. Ya ampun seburuk itu.

Pemerintah aku yakin sudah memikirkan bagaimana cara mengurangi dampak perubahan iklim. Nah sebagai rakyat Indonesia aku juga mau membantu sebisa mungkin gimana sih mengurangi dampak buruk aktivitas manusia yang mempengaruhi perubahan iklim.

Ini loh hal hal sederhana tapi nyata yang aku lakukan untuk bantu cegah perubahan iklim ekstrim.

1. Mengurangi penggunaan lampu di malam hari.

Kami sekeluarga kebetulan bisa tidur dalam keadaan gelap. Jadi saat waktu tidur tiba pukul 20.00 bahkan kadang lebih cepat. Lampu di rumah sudah dipadamkan. Tersisa lampu di teras dan ruang tengah saja.

2. Mematikan rice cooker setelah memasak.

Biasanya orang lebih suka makan nasi dalam keadaan hangat. Namun kami tidak. Selain terbukti makan nasi dingin dapat mengurangi kadar gulanya dan ini bagus untuk kesehatan. Mematikan rice cooker setelah nasi matang juga mengurangi penggunaan listrik.

3. Mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Ya tidak dapat dipungkiri sekarang AC sudah jadi kebutuhan pokok. Rasanya sulit tidur bila udara malam tak lagi dingin. Namun kami mengusahakan untuk hanya menggunakan pendingin udara di kamar tidur cukup malam saja. Dinyalakan pukul 18.00 dimatikan pukul 04.00 pagi. Sesuai jadwal bayiku tidur.

Istirahat nyenyak itu penting gaes. Kebetulan budget juga sesuai sih. Bersyukur banget bukan orang kaya. Jadi rumah nggak semua ruangan di kasih pendingin udara.

4. Menanam pohon di halaman rumah.

Ini juga yang membuat aku menolak usulan teman soal tanaman buah dalam pot. Menurutku tanaman yang ditanam langsung di tanah memiliki dampak lebih baik untuk lingkungan. Setidaknya membantu menahan air di dalam tanah.

Halaman rumah kami yang seuprit itu pun tetap kami pertahankan. Walau godaan untuk diplester dengan semen dan ditutup keramik biar bisa jadi tempat bermain anak cukup menggoda iman.

5. Mengurangi penggunaan tisue

Aku belum bisa lepas ya dari pertisuean karena punya bayi. Namun di rumah aku usahakan pakai lap. Jadi tisue cukup untuk bekal saat bepergian ke luar rumah.

Setidaknya sudah membantu mengurangi pemakaian tisue kan? Yang artinya mengurangi jumlah pohon yang ditebang.

6. Menggunakan popok kain

Ini juga belum sepenuhnya lepas, karena untuk pergi pergi diapers atau popok sekali pakai itu jauh lebih praktis. Namun di rumah anakku sudah diusahakan menggunakan popok cuci ulang.

7. Bijak menggunakan kendaraan.

Karena punya bayi, maka Mobil di rumah paling digunakan 2 x seminggu. Kami menghindari bepergian terlalu sering kecuali benar benar penting.

Selain karena bayi belom mau duduk di carseat. Juga kondisi korona begini lebih aman dan nyaman di rumah saja. Ternyata pilihan begini dapat membantu mengurangi zat emisi karena polusi udara dari kendaraan.

Selain itu Pertamax juga udah naik, jadi tambah malas bepergian.

8. Tidak boros berbelanja pakaian

Tahu nggak sikap boros kita ternyata bikin bumi jadi rusak. Limbah industri pakaian termasuk pakaian yang sudah tidak bisa dipakai salah satu penyumbang limbah terbesar loh.

Apalagi sekarang harga pakaian murah meriah. Orang lebih baik beli baru daripada menjahit yang rusak sedikit.

Makanya #untukmubumi biar mengurangi belanja pakaian, di rumah aku punya mesin jahit. Jadi kalau ada baju yang sobek sedikit ya tidak perlu beli baru.

9. Membeli produk produk yang bisa isi ulang

Produk produk curah sekarang bisa jadi solusi, mengurangi penggunaan kemasan plastik sekaligus mengurangi pengeluaran karena harganya jauh lebih terjangkau.

Sudah banyak tempat berbelanja isi ulang. Yang bisa kita manfaatkan untuk membeli sampo, detergen, minyak dll.

Nah sebenarnya masih banyak yang bisa aku lakukan. Tapi segini pun menurutku dapat memberikan sumbangsih terhadap kelestarian alam. Yang penting kita kerjakan secara konsisten dan beramai ramai.

Harapanku juga semoga ada solusi untuk pembelian paket online shop. Karena kadang bingung membuang sampah bekas kemasan produk online shop. Kemasan plastik berlapis, masih dikasih kardus pula, dan lakban yang full di seluruh paket.

Yuk kita jaga kelestarian bumi. Supaya nanti anak cucu kita nggak perlu merasakan suhu udara panas karena adanya perubahan iklim yang ekstrim.

Kalau orang kaya ya enak. Bisa pasang pendingin ruangan sampai di terasnya pun dikasih AC. Kalau yang tidak punya kayak kita? Kan eman eman bayar listrik tiap bulannya.

Rindu tidur siang dengan hembusan angin alami tanpa perlu kipas angin atau pendingin ruangan.

Rindu juga dengan makanan yang awet tidak perlu dimasukkan ke kulkas. Cukup ditaruh di meja makan.

Semoga langkah yang kita lakukan nanti dapat menghambat perubahan iklim, dan siapa tau malah membawa perbaikan.

Yuk yuk yuk jadi #teamupforimpact mari mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan dari sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.